Saturday, April 26, 2014

SEPARUH SINOPSIS DALAM RIBUAN EPISODE



Terkadang hidup dipenuhi dengan kebahayaan, ketakutan, keragu-raguan, ketidakyakinan, bahkan lebih dari itu. Tapi itulah yang menarik dari hidup ini. Sebuah game saja di desain sedemikian rupa penuh dengan kebahayaan dengan tingkatan atau level masing-masing, dan jika game tersebut biasa-biasa saja, bahkan mungkin pecinta game tidak tertarik untuk memainkan game tersebut, simpelnya tidak menantang. Sekali lagi tidak menantang. Bukan begitu ? 

 PART I, SENYUM
Saya menempatkannya di pointer pertama. Bahkan saya berpikir satu senyum akan mewakili beribu bentuk ungkapan perasaan seseorang. Ya walaupun saya orangnya jarang senyum, terkesan cemberut dan begitulah ! tapi setidaknya saya sangat tergila-gila pada mahkluk Tuhan yang dikarunia senyum yang indah.
Kawan saya pernah bertanya, “ada apa dengan mulut dan raut mukamu, seperti sedang dalam gumpalan benang kusut ?” kemudian hanya ada balasan dengan muka yang semakin kusut. Dan kemudian teman saya terlihat sangat kecewa melihat balasan pertanyaan itu. Kemudian dia melanjutkan lagi, kamu tau tidak satu senyum bisa menularkan satu senyum ke orang lain, dan kamu harus tau juga, satu wajah kusut dapat menularkan seribu virus kusut ke orang lain. Seperti benang kusut yang saya maksud tadi ! bahkan seperti di sambar petir, kalimat yang begitu datar namun sangat tajam menggesek hati. Saya mulai berada dalam kondisi yang tidak stabil dan terngiang-ngiang akan perkataan kawan tadi. Kemudian saya mulai sadar bahwa senyum itu penting. Pentingnya tersurat diatas!
Seperti yang dikatakan salah satu kawan saja juga, bahwa senyum itu salah satu faktor yang penting dalam membangun suatu hubungan komunikasi dengan seseorang. Senyum ibarat tanda yang disepakati secara universal bahwa seseorang senang dengan keberadaan orang di sekitarnya. Jadi kata kuncinya ada pada “komunikasi”
PART II,  KAMPUSKU TEMPAT FAVORITKU
Jakarta ibu kota negara. Sebuah pemukiman yang indah menurutku, namun secara sekilas selalu di identikkan dengan kemacetan, polusi, padat, dan sebagainya. kali ini saya tidak berbicara tentang jakarta secara menyeluruh, saya hanya akan menyorot satu tempat yang 2 tahun terakhir ini saya katakan sebagai tempat favorit. Sebuah kampus yang terdiri dari tumpukan bangunan yang telah berumur, begitulah kesan pertama ketika merapatkan alas sepatu ke wilayah tersebut. Sebuah pos pamdal yang terdiri dari beberapa pamdal dengan seragam setengah rapinya berjaga di depan dekat pintu gerbang masuk yang identik dengan suara gemuruh hirup pikuk kendaraan dan hembusan polusi. Di sebelah kiri berjejer ATM, yang bisa di katakan menjadi salah satu nyawa untuk manusia. Di sebelah kanan tanah lapang berumputkan hijau yang menjadi saksi bisu untuk segala kegiatan saya selama di kampus, menyusul sebuah bangunan megah sebuah sekertariat tempat para pejabat tangguh menghabiskan waktunya. Kemudian disusul dengan bangunan yang tak kalah megahnya sebuah aula tempat biasa untuk melakukan aktivitas dari yang nonformal hingga formal lainya. Berdekatan dengan itu, nampak juga bangunan tinggi berderetan, sebuah tempat penting untuk saya dan mereka. Kelas, tempat dimana sebagian nyawa segar saja beradu mengejar, menimba, menuntut ILMU.
Di sudut pembelokan ke arah kanan, sebuah bangunan yang paling megah dan kokoh diantara semua bangunan menurutku, sebuah tempat yang sangat mengagumkan, mesjid ! tempat para yang berindentitas hamba-Nya, muslim ! malakukan ritual, berdiskusi dengan penciptanya.
Saya mulai berjalan mundur beberapa langkah dan kemudian terhenti di sebuah titik tepat di depan sebuah bangunan yang terlihat menyeramkan, sebuah ruangan berukuran kecil berisi tumpukan kursi dan meja yang sedikit tidak beraturan, arsip-arsip surat dan dokumen penting, serta seperangkat komputer. Ah semua serasa tertumpuk (tarik nafas). Itulah yang dinamakan posko pengasuhan, sebagian nyawa segarku beradu lagi disana. Yayaya!
Hengkang lebih jauh dari posko, saya akan menghantarkan ke sebuah tempat yang tak kalah berumurnya dengan bangunan lain, sebuat tempat yang kusebut istana, tempat dimana 2 tahun waktuku yang sangat singkat di kota indah ini kuhabiskan. Wisma, wisma nusantara 4 atas, tepatnya kamar 2. Bangunan kokoh, sederhana, tak terlalu megah, namun banyak melukiskan cerita megah. Sebuah kamar berukuran sedang, sangat pas untuk berdua dengan saudara kamarku. Sebuah bed beralaskan seprei biru bertulis IPDN, berselimut biru dongker, semua meja belajar turut memberikan warna dengan sedikit tumpukan buku, serta beberapa barang favorit bertengger disana. Itulah tempat favoritku, istana sederhanaku :) 

PART III, I’m NURUL CHAERIAH
RIA, itu nama panggilan saya. nama yang manis, bukan ? haha. Saya seorang muslim sejati , kekasih dari Allah SWT. Dan sangat mencintai Nabi Muhammad.  Sekarang saya sedang di titik terakhir berupaya menghabiskan sisa pendidikan saya di almamater tercinta, IPDN. Sebuah kampus fenomenal, bukan ? siapa yang tak tau. Saya yakin semua tau, minimal pernah dengar namanya kan. kurang lebih 4 tahun saya hidup dengan rambut pendek,  dan saya sangat menyukainya * yuhuuuu *. Saya mencintai keluarga saya. Ayah saya, ibu saya, kakak saya dan saudara saya. begitu banyak. Saya mencintai mereka tanpa syarat. Saya sering mengatakan bahwa mereka adalah sumber energi dalam hidup saya. Saya suka Kuning. Saya memiliki beberapa barang yang dominan terdiri dari waran kuning. Tak ada alasan kuat mengapa saya menyukainya, ya begitulah. 
Saya juga menyukai mawar. Semua berawal ketika salah seorang teman saya sangat terlihat romantis dengan pasangannya, pasangannya yang sering membawakannya mawar. Haha terlihat sangat konyol, tapi ya memang awalnya begitu. Dan aku suka musik, mendengarkan musik, setiap hari hampir tanpa musik. Hobi saya adalah menulis, menulis apa yang saya pikirkan, pengalaman, peristiwa luar biasa, curahan hati, dan semua tentang rasa, tentang apa yang sedang ada dalam rasa. 



2 comments:

  1. salam kenal :)
    sinopsis otobiografi sepertinya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hola. salam kenal juga. ya sepertinya begitu, hehe.

      Delete