Friday, April 4, 2014

MALAM MENULIS SURAT CINTA

malam hening seperti biasa begitulah suasana kamar kedua dari ujung. kamar nomor 2 kamar kebanggaanku yang selalu kurindukan menggelora asa. sudah lama, sudah hampir 2 tahun bersua di sebuah ruang kecil, ah banyak kata untuk menggambarkanmu kawan hidup, kawan hidup kusebut demikian.


sebuah layar kusam dan sedikit debu menempel di keyboardnya, tengah siap menanti jari jemari saya menari-nari diatasnya. aku sedang dalam inspirasi, ijinkan aku untuk meluapkannya.

aku ingin bersurat sambil bersirat!

dear Tuhan,

aku dalam usia 21 tahun, telah lama menyelam menyeruak dan bahkan menepi hingga ke sudut lorong yang sedangkal-dangkalnya. aku menikmatinya dengan sedikit kebodohan, dan sesekali mengeluhkannya. apapun yang teleh Engaku hadirkan di setiap pertambahan usiaku, tapi bukan untuk sesuatu yans sia-sia, semua bermakna. aku selalu percaya itu.

aku sedang dalam hening menatap sebuah angkasa berluaskan berisikan bintang, menumpahkan berlian cahaya, aku hampir lebur, menghilang dan sesekali membenamkan wajah. lalu kadang bersandar dan bergeming, kurang apa kah aku, bisa kah aku lebih, semua hanya berharap banyak, dan aku hampir lupa. maafkan aku. semua teredakan ketika mulai sadar ketika saya telah banyak medramatisir sesuatu, dengan membualkan sesuatu yang tak logis dan hanya sebentuk yang samar.

aku tahu, tahu apa yang haru dijalankan, tapi mengapa ?
aku tahu, tahu seperti apa harus berfikir, tapi mengapa, iya mengapa ?
dan aku hanya menganalisanya dengan tumpahan kata-kataku sendiri. aku egois.

dear Tuhan,

aku telah benyak mengelurkan banyak pertanyaan yang sebenarnya telah kuketahui jawabannya namu bukan kebenarannya. kusimpan bahkan kujaga tanpa kutahu bahwa itu akan membekukan derita di dalam diriku...

dear Tuhan,

tuntun ke arah yang lebih cerdas, jauhkan dari hal ketidakpercayaan dan ketidakraguaan akan esensi. membelajarkan tentang bagaimana mendewasakan dan mengelabui firasat yang samar ini.

dear Tuhan,

mungkin saat ini akun sedang dalam fase tak logis


dear Mama,

sebuah senyum khas di ujung sana. ma, tidurlah! ria baik-baik saka disini. istirahatlah dan mimpikan ria dan yakin bahwa selalu cinta dan sayang pada mama. banyak keluh kesah dan sakit ingin kesalurkan ke mama, tapi sudah waktunya mama tidur. do'akan ria ya ma.

banyak kata yang tersimpulkan ketika saya menggambarkan seorang sosok anggun cantik dan luar biasa. ma, doakan ria, sedikit lagi ma, selangkah lagi. ria pulang untuk mama, membawa segemgam senyum untuk mama.

dear aku,

jika boleh meminta, aku akan meminta Tuhan untuk menjawab tumpahan-tumpahan pertanyaanku akan hidup di masa mendatang, lalu mengijinkanku untuk merapal banyak-banyak doa, berharap jadi yang baik dan lebih dari sekedar baik saja.

semangat untuk menjadi bagian dari episode paling getir
semangat untuk menjadi yang terang dalam gelap
dan semangat untuk menjadi aktor dalam memerankan skenario Tuhan, yang sedikit lagi akan kehilangan kesamarannya.

dear kamu,

kamu yang kusebut sebagai calon kekasihku. semakin aku berharap semakin aku banyak berdoa untuk Tuhan mengiyakan dan mengijinkan untuk kamu, untuk menyimpakan ruang kosong, ruang untuk menitipka hatiku...



No comments:

Post a Comment